Tantangan dalam Pendidikan dan Pengajaran Masa Kini

Views :2417 Times

 

Istilah "tantangan" dapat menimbulkan reaksi berbeda-beda dari tipe orang yang berbeda berdasarkan teori Adversity Quotient (AQ) yang dirumuskan oleh Paul G. Stoltz. Teori ini berbicara tentang tiga tipe orang dalam meresponi tantangan yang dihadapi dalam suatu perjalanan pendakian gunung.

Tipe pertama disebut "quitters," yaitu mereka yang berhenti dan tidak mau melanjutkan perjalanan. Tipe ini termasuk kategori orang-orang yang tidak bersedia menghadapi kesulitan dan tantangan yang akan dihadapi di depan. Dalam menghadapi perubahan situasi atau kondisi, mereka lebih memilih untuk mempertahankan "status quo" bahkan anti-perubahan. Tipe kedua adalah disebut "campers," yaitu mereka yang meneruskan pendakian sampai suatu batas tertentu yang cukup nyaman untuk bertenda. Tipe ini termasuk kategori orang-orang yang masih bersedia menghadapi kesulitan dan tantangan, namun cepat puas dengan prestasi yang biasa-biasa saja. Tipe ketiga disebut "climbers," yaitu mereka yang terus mendaki gunung hingga ke puncaknya. Tipe ini termasuk kategori orang-orang yang gigih dan tidak takut akan kesulitan atau tantangan yang akan menghadang di depan dengan tujuan mencapai puncak keberhasilan. Dalam menghadapi perubahan, tipe ketiga ini akan selalu siap untuk terus maju, pantang mundur.


Sekalipun dikatakan bahwa ketiga tipe orang ini berbeda, ada satu kesamaan, yakni: setiap orang memiliki kesadaran akan adanya tantangan di hadapan mereka. Hadirnya suatu kesadaran akan tantangan merupakan sesuatu yang sangat signifikan, sebab kesadaran merupakan langkah pertama dalam meresponi tantangan di mana langkah ini akan berlanjut ke langkah selanjutnya, yang disebut sebagai strategi menghadapi/mengatasi tantangan. Sebaliknya, ketidakhadiran kesadaran merupakan suatu "ignorance" (ketidaktahuan) yang dapat berakibat buruk dan mungkin akan semakin buruk dengan berjalannya waktu, bila kesadaran tersebut tak muncul juga.

Menyadari adanya suatu tantangan bukanlah hal mudah. Hal ini dialami oleh masyarakat Brazil yang tak menyadari tantangan hidup yang mereka alami yang disebabkan oleh sistem pendidikan yang menindas sampai bangkitnya seorang tokoh bernama Paulo Freire. Karena perjuangannya bagi kaum tertindas, Freire dikenal sampai ke manca negara. Dia menuliskan kisah perjuangannya itu melalui sistem pengajaran yang disebut "Pedagogi Kaum Tertindas" dalam rangka melawan sistem pendidikan nasional yang tidak memanusiakan manusia sebagaimana mestinya, yang mana dirumuskan dan diberlakukan oleh pemerintah. Istilah "menindas" memang dipakai untuk mengungkapkan suatu kejahatan sistem yang dirancang dengan sengaja untuk mengondisikan rakyatnya dalam situasi miskin dan duka lara yang diterima sebagai nasib.

Banyak orang dewasa dibuat menjadi buta huruf, sehingga mereka sama sekali tidak menyadari akan adanya suatu rancangan jahat dari pemerintah yang terus menerus ingin mempertahankan status quo dan seluruh kenyamanan dari pihak elit.

Bermula dari penugasan atas dirinya untuk mendidik orang dewasa yang buta huruf dan pemahaman reflektif terhadap sistem pendidikan yang sangat melilit bangsanya, Freire berjuang untuk membangkitkan kesadaran(conscientization) di kalangan masyarakat Brazil yang tertindas ini. Dia mengkritik habis-habisan sistem pengajaran yang disebut "sistem bank" di mana guru seolah-olah mendepositokan pengetahuan kepada peserta didiknya sebagai penerima/objek yang pasif dan apatis. Inti dari sistem pengajaran Freire adalah menghadirkan para pendidik progresif yang menghormati peserta didik sebagai subjek aktif dengan membangkitkan kuriositas kognitifnya dalam membaca dunia dan mengungkap sebab-musabab segala sesuatu. Sistem pengajaran yang progresif ini telah dianggap sebagai sistem yang subversif dan menyebabkan Freire dibuang dari negaranya. Itulah harga mahal dari seorang tokoh pendidikan yang menyadari adanya tantangan besar dari bangsanya dan menyadarkan mereka akan tantangan tersebut.

sumber: Stulos 12/1(April 2013) ISSN 1858-4683

 

Tan Giok Lie

Dosen Pendidikan Kristen

STT Bandung

Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62) 22 601 - 6454
fax : (+62) 22 607 - 7921
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.