Formasi Spiritual Holistik di Sekolah Teologi Injili

Views :3024 Times

 

Formasi spiritual adalah "respon kita secara berkelanjutan pada realita dari anugerah Allah yang terus membentuk kita untuk menjadi seperti Kristus, melalui karya Roh Kudus di dalam komunitas iman, bagi kepentingan dunia ini."

Istilah 'formasi' berasal dari akar kata 'morphe' (Roma 12:12, 2 Kor 3:18) yang dari padanya muncul istilah 'metamorfosis'. Dalam proses formasi spiritual ini akan terjadi transformasi spirit (atau hati atau kehendak) yang akan memengaruhi semua aspek dari seorang individu, tanpa terkecuali, termasuk pikiran (gambaran, konsep, penilaian, pemikiran), perasaan (sensasi, emosi), pilihan (kehendak, keputusan, karakter), tubuh (tindakan, interaksi dengan dunia fisik), dan sosial konteks (hubungan pribadi dengan orang lain).

Disebut 'respon' karena proses untuk menjadi seperti Kristus ini tidak pasif; sebab walaupun hal ini merupakan inisiatif Allah, tetapi dibutuhkan respon manusia untuk "mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kolose 3:10).

Sementara itu, istilah 'holistik' dalam 'formasi spiritual holistik' berasal dari kata halos yang merupakan istilah bahasa Yunani untuk 'menyeluruh' (whole). Di ranah pendidikan, ini berarti bahwa bagian-bagian dari keseluruhan tidak dapat berdiri sendiri dan hanya dapat dipahami dalam hubungannya dengan keseluruhan yang lain.

Dalam konteks pendidikan teologi di sekolah teologi, formasi spiritual holistik ini bukan berarti menghabiskan lebih banyak waktu di kapel kampus dan mengurangi waktu belajar di kelas. Paradigma semacam ini merupakan "pandangan yang sangat miskin tentang spiritualitas yang membatasi formasi spiritual pada sesi-sesi ibadah formal bersama di kapel kampus, meskipun hal tersebut merupakan hal yang esensial."

Formasi spiritual holistik haruslah mencakup seluruh proses pendidikan yang menyertakan pula proses formal di dalam kelas, tapi juga proses non formal di luar kelas. Marcus Throup secara menarik menggunakan istilah 'paradigma penyembahan' dalam usahanya meredefinisi kembali formasi spiritual holistik di dalam pendidikan teologi. Ia menyatakan bahwa menerapkan penyembahan sebagai motif utama yang mendasari pendidikan teologi adalah berarti "mengklaim bahwa mengetahui, mengasihi, dan mengikuti Kristus adalah esensi dan tujuan dari studi teologi dan juga proses pembelajaran hidup yang terdapat di sekolah teologi atau seminari."

Dengan demikian, formasi intelektual dalam teologi dan formasi dalam kehidupan spiritual sebetulnya saling berhubungan dan bahkan terintegrasi; karena yang satu tidak akan menghilangkan yang lainnya. Riset yang berkualitas tidak akan menghilangkan keintiman dalam kehidupan doa, tapi justru saling menguatkan. Susanne Johnson, edukator Kristen kontemporer, menyatakan bahwa kunci utama dari pendidikan Kristen dan formasi spiritual adalah bahwa "formasi spiritual bukanlah hal yang terpisah, tapi justru merupakan dinamika kunci dari menjadi seorang Kristen."

Solusi di Level Historis: Kembali ke Awal


Integrasi dari formasi intelektual dan formasi kehidupan spiritual sebagai suatu kesatuan ini merupakan solusi dari fragmentasi yang telah terjadi dalam proses historis. Edward Farley mengatakan bahwa pendidikan teologi "harus memperbaiki (recover) makna dari teologi" seperti maknanya semula sebelum terfragmentasi, yaitu sebagai hikmat yang menuntun pada pengenalan akan Allah dan sebagai disiplin.


Kevin J. Vanhoozer, berpendapat teologi bertujuan pada tercapainya pengetahuan akan Allah dan bersifat kontekstual. Ia meyakini bahwa baik theoria (pengetahuan akan proposisi yang benar) maupun techem (pengetahuan atau keterampilan fungsional) tidak cukup bagi sebuah interpretasi teologis. Karena itu ia mengusulkan cara ketiga yang disebutnya sebagai phronesis, yaitu "kemampuan untuk menerapkan penilaian yang baik dalam konteks yang spesifik. Dengan kata lain, teologi adalah hikmat atau kemampuan untuk mengatakan atau melakukan hal yang tepat dalam situasi yang spesifik."


Hikmat ini dicapai tidak hanya dengan mengetahui secara kognitif karena secara epistemologis, "mengetahui" (knowing) dalam kekristenan,telah didefinisikan oleh Agustinus sebagai 'percaya untuk mengerti'. Dengan kata lain, iman adalah presuposisi yang memimpin pada pemahaman yang rasional. Tanpa panggilan Tuhan yang didasarkan pada iman dan anugerah, tidak akan ada seorang pun yang memahami Tuhan dan kebenaran-Nya.


...


Karena itu, teologi Kristen berdasarkan pada spiritualitas Kristen yang berakar pada iman, yang meyakini bahwa hidup yang penuh dari seorang manusia hanya dapat dicapai melalui hubungan yang dalam dengan Tuhan. Ini mengimplikasikan bahwa semua dimensi hidup adalah milik Tuhan dan dapat digunakan untuk mengenal-Nya secara intim – dan bukan sekedar tahu secara kognitif tentang-Nya. Calvin pun menyatakan, mengenal Tuhan adalah diubahkan oleh Tuhan; pengetahuan sejati akan Tuhan memimpin pada penyembahan, sementara seorang pemercaya berada dalam perjumpaan yang mentransformasi dan memperbarui dengan Allah yang hidup.


Dalam konteks sekolah teologi, cara terbaik untuk menerapkan pemahaman yang integratif dari 'teologi' ini adalah melalui kurikulum yang integratif. Donald Senior dan Timothy Weber yang menulis tentang karakter dari formasi kurikulum mengatakan bahwa kurikulum bersifat formatif sebab kurikulum tidak hanya mengakomodasi berbagai mata kuliah, tapi merupakan sebuah proses refleksi kritis dan integratif. Melalui kurikulum kita dapat mengakomodasi tidak hanya pemberian pengetahuan, tapi juga mentransformasi pemahaman mahasiswa yang akan mempengaruhi mereka secara personal maupun vokasional.


...


Karena itu, sekolah-sekolah tinggi teologi harus melatih para dosennya agar mengerti paradigma dari kurikulum yang integratif ini; termasuk pula kurikulum non formal yang sangat penting dalam proses formasi spiritual holistik. Termasuk di dalamnya adalah dengan menciptakan sistem yang akan mendorong para dosen untuk menerapkan hal ini, tapi juga menolong para mahasiswa untuk belajar sebanyak mungkin dari berbagai sumber yang berbeda.

Solusi di Level Individual: Renovasi Hati Pendidik


Pada level individual, ketidakseimbangan antara head, heart, hands ini perlu diatasi melalui renovasi hati para pendidik. Karena itu, pertama-tama, sekolah teologi harus mencari dosen yang tidak hanya berkualitas secara akademis, tapi juga memiliki rekam jejak yang baik dalam pelayanan, khususnya dalam hubungan panggilannya sebagai pendidik. Hal ini penting karena menjadi pendidik bukan hanya sekedar talenta, tapi juga tanggung jawab seperti yang terdapat di Yakobus 3:1, Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat."


Kedua, pekerjaan yang bukan panggilan merupakan kekerasan yang kita lakukan pada diri sendiri. Parker Palmer secara jujur menyatakan hal ini: "Ketika saya melakukan kekerasan pada diri saya, pada akhirnya saya melakukan kekerasan juga pada orang-orang yang bekerja bersama saya. Berapa banyak pendidik yang telah membagikan luka pribadinya pada para muridnya? Luka karena melakukan pekerjaan yang tidak pernah atau tidak lagi merupakan pekerjaan sejati mereka?"


Ketiga, keseluruhan hidup seorang pendidik akan diimpartasikan kepada para anak didiknya, karena seorang pendidik akan secara otomatis menjadi teladan hidup. Sebagai guru, Yesus Kristus tidak hanya mengajarkan suatu pengajaran. Ia juga identik dengan pesan-Nya itu. Ia tidak hanya menawarkan roti hidup, tapi Ia sendiri menjadi roti hidup. Karena itu, jika seorang pendidik ingin menjalankan perannya secara efektif, maka ia sendiri harus menjadi seorang yang utuh secara pribadi. Seorang pendidik yang baik akan memiliki identitas pribadi yang berakar pada hubungan pribadi dengan Allah yang hidup.


Pendidik yang semacam itu secara otomatis akan memiliki kapasitas bagi keterhubungan, dan karena itu, para muridnya yang berinteraksi dengan mereka akan belajar untuk membangun kapasitas yang sama juga. Palmer mengatakan bahwa metodanya bisa bervariasi, tetapi "koneksi yang dibuat oleh guru yang baik bukan terletak pada metodenya, tapi pada hati-nya." Karena itu, persiapan hati bersama Tuhan – dan bukan sekedar materi pengajaran, sangat penting untuk dilakukan oleh seorang pendidik.


STULOS 12/1 (April 2013) 121-144

Grace Emilia, M.Th.

Lecturer

STT Bandung

Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62) 22 601 - 6454
fax : (+62) 22 607 - 7921
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.