Studi Kepemimpinan Rasul Paulus

Views :4599 Times

 

Kepemimpinan adalah hal penting dalam pelayanan karena berimplikasi besar terhadap penggunaan otoritas dan perubahan. Di dalam gereja dan organisasi pelayanan selalu juga ada pemimpin dan pengikut. Penyangkalan terhadap kenyataan ini sering jadi akar konflik. Gereja atau organisasi pelayanan adalah satu organisme yang perlu arah dan koordinasi yang lahir dari kepemimpinan. Alkitab tidak pernah menyangkal perlunya kepemimpinan. Malah sekalipun ada potensi pertentangan dan kesalah-pahaman, Perjanjian Baru tidak takut untuk mengadopsi terminologi sekuler bagi para pemimpin Kristen pada masa itu (lihat Ibrani 13:7, 17, 24). Ketika membahas mengenai kepemimpinan, Alkitab menggunakan istilah sekuler hegomenoi yang sebenarnya umum digunakan untuk pemimpin militer, raja, imam dan orang-orang besar lainnya.

Adalah salah jika kita berasumsi bahwa melaksanakan kepemimpinan adalah perbuatan salah atau dosa, karena dosa sesungguhnya lebih berhubungan dengan bagaimana kepemimpinan itu dilaksanakan, bukan pada kepemimpinan itu sendiri. Pemahaman teologis menegaskan bahwa kuasa, kemampuan, otoritas, dan karunia seorang pemimpin berasal dari Tuhan, dan karenanya harus dipraktekkan di dalam, dengan dan untuk kemuliaan Tuhan.

Tantangan dalam Studi Kepemimpinan Paulus

Dalam beberapa dekade terakhir, studi mengenai Rasul Paulus telah bergeser dari riset doktrin primer kepada usaha untuk memahami surat-surat Paulus dalam konteks sosialnya. Para ahli biblika berusaha menyelidiki berbagai konteks dan kondisi dimana Paulus berada dan melayani, jenis orang orang yang bersamanya, serta berbagai tipe kelompok yang dilayaninya, dst. Untuk meneliti bagaimana Paulus dalam praktek kepemimpinannya, diperlukan penelitian atas dasar retorika Paulus, dan apa yang ia bandingkan atau kontraskan dalam retorikanya. Kemudian retorika kepemimpinan dalam surat-surat Paulus tersebut perlu dibandingkan dengan prinsip-prinsip teologis-filosofis dan keseharian."

Paulus biasanya menggunakan retorika untuk menghasilkan perilaku baru di antara pembaca atau pendengarnya. Kadang dia menggunakan retorika yang keras ketika situasi mengharuskannya bersikap keras, namun pada umumnya Paulus lebih suka menggunakan retorika yang lembut karena ia berasumsi bahwa pendengarnya bisa memahami dan menerapkan apa yang dikatakannya secara kreatif dalam hidup mereka.

Adalah tidak mudah meneliti bagaimana Paulus mempraktekkan kepemimpinannya, ada beberapa hal yang harus disadari.

Pertama, sumber-sumber untuk mempelajari mengenai kepemimpinan Paulus sangat terbatas. Pada umumnya, cara untuk memahami kepemimpinan Paulus dilakukan melalui dua metode: dengan merekonstruksi aspek- aspek yang terdapat di surat-suratnya, dan dengan menguji struktur yang ada di berbagai komunitas Kristen abad pertama, lalu setelah itu mengimplikasikan berbagai fondasi yang mungkin dipengaruhi oleh Paulus. Meskipun mengandalkan surat-surat dan retorika bisa menyebabkan gambaran yang tidak lengkap mengenai kepemimpinan Paulus dalam gereja- gereja,. Sebuah surat seringkali berfungsi sebagai pengganti kehadiran Paulus dan suatu cara komunikasi Paulus dengan jemaat-jemaatnya di berbagai lokasi yang jauh. Surat-surat juga merupakan alat untuk dapat menyelesaikan berbagai tugas. Dengan menguji retorika dari surat-surat Paulus, maka interaksi kepemimpinan Paulus dengan gereja-gereja akan dapat dipahami.

Kedua, Paulus tidak menulis dan menghasilkan pernyataan sistematis mengenai kepemimpinannya. Perlu disadari bahwa walaupun para penulis Perjanjian Baru memiliki sumber otoritas yang sama, para penulis Perjanjian Baru menulis mengenai berbagai topik kepemimpinan dengan berbagai kesimpulan sendiri tentang kepemimpinan gereja. Misalnya, Markus berbicara tentang konsep kepemimpinan yang melayani (Markus 10), juga Petrus dengan penekanan pastoralnya (1 Pet 5) dst. Demikian juga Paulus. Paulus banyak menyoroti hal kepemimpinan dalam banyak suratnya (1 Kor 4:1, 1 Tim 3:1, Titus 1), namun dia sendiri tidak mengarang sinopsis sistematis mengenai teologi kepemimpinan. Tulisannya bersifat ad hoc atau hanya berupa surat-surat yang berhubungan dengan situasi dan isu spesifik di berbagai komunitas Kristen mula-mula.

Ketiga, definisi yang jelas mengenai konsep kepemimpinan dalam Alkitab tidak dapat dirumuskan dengan mudah karena sesungguhnya kita tidak memiliki konsensus yang jelas dan pasti tentang konstruk kepemimpinan, seperti misalnya kuasa, otoritas kepemimpinan dan berbagai gagasan lain yang sahih. Sekalipun kita bisa memberikan definisi tentang konstruk kepemimpinan dan berbagai aspeknya, kita harus sadar bahwa kita tidak punya konsensus yang pasti tentang hal ini.

Keempat, adalah tidak mungkin untuk kembali ke waktu lalu dan mengobservasi berbagai interaksi Paulus dengan konteksnya dan dengan gereja-gereja yang didirikan dan dikunjunginya di masa lalu. Kita hanya bisa memulai dari apa yang sekarang ada pada kita (surat-suratnya), dan dari sana kita menyeberangi ribuan tahun untuk meneliti kepemimpinan Paulus. Ini adalah sebuah tantangan tersendiri.

Kelima, gaya kepemimpinan Paulus sendirinya mungkin berkembang dan berubah ketika dia mendapatkan semakin banyak pengalaman. Pertumbuhan kepemimpinan Paulus bisa dilacak dari awal gaya kepemimpinannya dengan menguji surat-suratnya, misal surat kepada jemaat di Tesalonika dan Galatia. Bentuk kepemimpinan Paulus yang lebih canggih dan maju dapat dilihat dalam suratnya ke jemaat di Roma dan di Filipi. Itu sebabnya penting sekali melakukan pendekatan hermenetis yang tepat untuk mengejar bukti-bukti yang implisit tentang kepemimpinan Paulus yang terkubur di bawah permukaan tekstual surat suratnya.

Keenam, dimensi kepemimpinan dari surat-surat Paulus berbeda dan tergantung pada budaya komunitas Kristen kepada siapa surat-surat itu ditujukan. Di sini kita menemukan kekayaan konteks dimana kepemimpinan itu dijalankan, sekaligus juga menerangi kepemimpinan Paulus di dalam konteks konteks tersebut.

Ketujuh, setiap riset kepemimpinan memiliki resiko untuk menjadi usang dan tidak relevan karena konteks yang berubah. Selain ada kemungkinan bias hermenetis (ketika langkah-langkah hermenetis dipergunakan dalam penelitian) studi kepemimpinan Paulus juga tidak selalu serta merta bisa diterapkan pada hari ini, khususnya berhubungan dengan aplikasi kepemimpinan tersebut dalam konteks masa kini. Bayangkan saja, bagaimana masyarakat melihat kepemimpinan pada dua ribu tahun lalu akan berbeda dengan pandangan masyarakat demokratis dan egaliter abad ke dua puluh satu ini. Karenanya, menerapkan apa yang kita pelajari dari Alkitab secara membabi buta adalah sama salahnya dengan memaksakan ide kepemimpinan kontemporer ke dalam hermenetik teks Alkitab.

Menarik Maknanya bagi Kepemimpinan Kristen Masa Kini

Untuk mempelajari kepemimpinan Paulus dengan benar, sesungguhnya dibutuhkan pendekatan inter-disipliner yang mengintegrasikan studi kepemimpinan Paulus dalam surat-suratnya dengan studi kepemimpinan masa kini. Jika kepemimpinan hanya dikembangkan dari praktek kontemporer, ada bahaya bahwa praktek-praktek ini dijadikan standar kepemimpinan, dan timbullah kecenderungan untuk mengesampingkan Alkitab dan berinovasi secara tidak alkitabiah. Contohnya, kepemimpinan dalam teori sekuler mungkin hanya berfokus pada aktivitas dan hasil kepemimpinan, namun melupakan aspek-aspek penting lainnya, seperti misalnya Kristus sebagai sumber kekuatan kepemimpinan, tujuan kepemimpinan sebagai bagian dari misi Allah, dst.

Dilain pihak, adalah menyesatkan juga jika kita mengabaikan teori kepemimpinan kontemporer yang empiris. Julian Ogereau (2014) berargumentasi bahwa "secara metodologi merupakan sesuatu yang masuk akal untuk sejak awal mengesampingkan setiap model teori modern." Cara pandang seperti ini bersifat defensif dan destruktif bagi perkembangan Kekristenan di dunia masa kini. Clement, seorang apologet dari Alexandria (220 M) percaya bahwa setiap ide filosofis yang kongruen dengan kekristenan harus disatukan dengan teologi, bukan dibuang. Apalagi jika kita mengingat bahwa segala kebenaran berasal dari sumber yang sama, yakni dari Tuhan Sang Pencipta. Mengabaikan wahyu umum demi wahyu khusus adalah sama salahnya dengan mengabaikan wahyu khusus demi wahyu umum. Suatu teologi dan praktek kepemimpinan yang seimbang dan terintegrasi sangat dibutuhkan agar kita terhindar dari kesombongan dan manipulasi (2 Kor 11:14).

Kedelapan, diskusi teologis biblika tentang kepemimpinan tidaklah cukup, harus dipraktekkan karena jika tidak, kita tidak terhubung dengan realita dan praktek kepemimpinan di dunia masa kini. Teori kepemimpinan yang benar bukan hanya harus berasal dari gagasan alkitabiah, namun harus diintegrasikan dan dipraktekan. Teks dan konteks biblikanya harus dipelajari dan dipraktekkan secara serius sehingga sanggup untuk mentransformasi, bukan hanya diskusi.

Karena itu, gaya kepemimpinan Paulus memberikan makna bagi wacana kontemporer di dalam teori kepempinan Kristen. Konteks skripturalnya harus diintegrasikan sampai makna dari teks tidak hanya menunjukkan teori kepemimpinan kontemporer, tetapi juga berpotensi untuk mentransformasi aplikasinya.

Paulus dalam Kepemimpinannya

Dalam meneliti kepemimpinan Paulus, ada beberapa aspek menarik yang dapat kita pelajari. Pertama, Paulus berfokus pada karakter dan integritas seorang pemimpin. Paulus beserta para pengikutnya berusaha mencontohkan hal ini. Bagi Paulus, pemimpin harus menjadi tuan bagi dirinya dengan menunjukkan penguasaan atas nafsu, uang, anggur, atau temperamen. Bahkan seorang pemimpin harus dapat menjadi anepileepton (seseorang yang melampaui kekecewaan) agar dia tetap kuat dan tidak menjadi rapuh.

Kedua, Paulus menggunakan posisi dan otoritas kepemimpinannya secara efektif dan selektif untuk memastikan kelangsungan hidup gereja. Ia menggambarkan dirinya sebagai architekton (1 Kor 3:10) gereja. Ia adalah seorang pembangun yang ahli. Awalan arche biasanya merujuk pada otoritas yang memerintah. Istilah lain yang digunakannya adalah proistemi yang berarti "memimpin, mengarahkan, memerintah" yang digunakan dalam konteks mempedulikan orang lain (1 Tes 5:12 dan 1 Kor 12:28). Ia juga menggunakan istilah pilot (kubernetes) untuk merefleksikan fungsi dari seorang pemimpin. Paulus berfungsi sebagai pemimpin ketika ia menggunakan posisi dan otoritasnya sebagai rasul untuk memengaruhi dan mengarahkan gereja-gereja (Kol 1:1, 1 Tim 1:1, 2 Tim 1:1).

Ketiga, Paulus memandang gereja sebagai konteks penting dari kepemimpinannya. Untuk menjelaskan tentang kepemimpinan dalam konteks gereja, Paulus menggunakan paling tidak empat metafora yaitu ekklesia, keluarga, bangunan dan tubuh. Dalam konsep ekklesia, semua pelayanan dapat dilakukan oleh semua orang percaya. Semua anggota berfungsi sebagai sesama pekerja untuk melayani satu sama lain dan untuk bekerja sama bagi Kerajaan Allah. Paulus melihat para pemimpin setara dengan para anggota lainnya, kecuali di dalam tugas-tugas khusus kepemimpinannya (1 Kor 3:6-7). Dalam metafora keluarga, Paulus berfokus pada hubungan, kesatuan dan kasih. Dalam metafora ini, gereja adalah suatu keluarga besar dengan pengalaman yang konkrit dalam kebersamaan. Sementara itu, dalam metafora bangunan (gereja sebagai rumah, bait, dan bangunan), seorang pemimpin meletakkan fondasi, namun orang lain yang membangun di atasnya (walaupun Yesus tetap sebagai fondasi utama). Dalam metafora mengenai tubuh, Paulus mengindikasikan adanya saling kebergantungan di dalam gereja sehingga tidak ada satu orang pun yang superior atau inferior dibanding yang lain.

Keempat, Paulus menegaskan kepemimpinan sebagai hal yang utama dan baik bagi setiap orang Kristen. Meskipun kepemimpinan bisa menjadi tempat berbahaya yang mengekspos seseorang pada kerja keras, penganiayaan, dan bahkan kematian (contoh 2 Kor 6:4-10), Paulus menganggap keinginan untuk menjadi pemimpin Kristen sebagai sesuatu yang mulia. Jika ada orang yang tertarik pada posisi kepemimpinan (misalnya: jabatan bishop), ia sebenarnya menginginkan hal-hal yang baik (1 Tim 3:1). Paulus tidak bersikap negatif kepada posisi, jabatan dan otoritas kepemimpinan, karena dia tahu bahwa yang terpenting pada akhirnya bukanlah posisi kepemimpinan, melainkan panggilan Tuhan dan pelayanan diri yang berkorban.

Pdt. Agus G. Satyaputra, Ph.D. (cand.)

Ketua

STT Bandung

Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62) 22 601 - 6454
fax : (+62) 22 607 - 7921
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.