Immanuel Lanjutan

Views :558 Times

Imanuel

Yes. 7:14-16 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. 15 Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, 16 sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. Mat. 1:21-23 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. 22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: 23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" yang berarti: Allah menyertai kita.

 

https://thumbs.dreamstime.com/z/amamenta%C3%A7%C3%A3o-23562226.jpg

Nubuat dan Penggenapan

Ada penafsir yang menganggap nubuat adalah blue-print rancangan Allah tentang masa depan.Sama seperti developer yang membangun sebuah rumah, setiap detil rumah harus dibangun sesuai dengan blue-print rancangan seorang arsitek, demikian pula peristiwa masa depan, harus terjadi tepat seperti setiap detil yang disingkapkan oleh nubuat / blue-print ini.

Tapi tampaknya model nubuat sebagai blue-print peristiwa masa depan tak berlaku untuk teks Yes. 7:14 yang dikutip oleh Matius. Di Yes. 7:14 tertulis, "ia" (yaitu seorang perempuan muda yang akan mengandung dan melahirkan) akan memberi nama "Imanuel" kepada anaknya. Tapi di penggenapannya, "engkau" (yaitu Yusuf, suami dari Maria, seorang perawan yang mengandung dan melahirkan) memberikan nama "Yesus" kepada anaknya, sesuai dengan perintah Allah yang disampaikan dengan perantaraan malaikat. Di Luk. 1:31, Maria mendapat perintah Allah yang sama yang disampaikan oleh Malaikat, Maria juga harus memberi nama "Yesus" kepada anaknya.

Nubuat menyingkapkan nama "Imanuel," tapi penggenapannya adalah nama "Yesus." Dua nama yang berbeda, memaksa kita meninjau ulang pengertian kita tentang nubuat..

Ada penafsir lain yang berkata, "ketika kau membaca teks Kitab Suci, di saat yang bersamaan teks Kitab Suci membaca dirimu." Tampaknya semboyan ini bisa menjelaskan fungsi pertama dari nubuat, yaitu manafsir / menyingkapkan identitas diri pembaca / penafsir Alkitab. Ibr. 4:12 juga berkata, "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." Firman Allah, meneliti, dan memilah perasaan dan pikiran para pembacanya.

Bangsa Israel menerima PL sebagai Kitab Suci. Dan 70 penafsir Kitab Suci yang paling hebat dipilih untuk menjadi anggota Sanhedrin, Mahkamah Agama tertinggi di Israel. Ketika Sanhedrin mendengar pengakuan Yesus, bahwa diri-Nya adalah penggenapan nubuat Daniel tentang "Anak Manusia," maka Imam besar mengoyakan pakaian, dan berkata, "Ia menghujat Allah." Kitab Suci membaca dan memilah identitas diri para pembacanya. Sanhedrin memiliki pengetahuan Kitab Suci yang luar biasa, tapi tidak punya relasi dengan Allah, sehingga mereka tak bisa mengenali Yesus, sebagai "Imanuel," Allah yang hadir bersama kita.

Tapi Simon, seorang nelayan sederhana, dengan pengetahuan Kitab Suci yang terbatas, bisa menjadi orang pertama yang memberikan pengakuan tentang Yesus di Mat. 16:16, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Yesus menjawab, "bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga." Keterbatasan pengetahuan Kitab Suci, tidak menghalangi Simon untuk mengenali Yesus sebagai "Imanuel," Allah yang hadir bersama kita. Karena Simon memiliki relasi dengan Bapa yang di sorga, maka Bapa menyingkapkan kebenaranNya. Fungsi pertama nubuat adalah membaca dan menyingkapkan identitas diri pembacanya, memilah dan memisahkan pembaca yang memiliki relasi dengan Allah dan pembaca yang tidak memiliki relasi dengan Allah.

Karena itu Matius mengubah teks Kitab Suci yang dikutipnya. Di Yesaya 7:14 tertulis "ia," yaitu perempuan muda itu, akan memberi nama "Imanuel" kepada anaknya. Tapi di Mat. 1:23 tertulis, "mereka" akan menamakan Dia "Imanuel." Kata "ia" diganti dengan kata "mereka."

"Mereka" adalah para pembaca Kitab Suci, yang bisa mengenali Yesus sebagai Allah yang hadir bersama kita. Pengenalan yang bukan berasal dari kehebatan menafsir Kitab Suci, tapi berasal dari relasi erat dengan Bapa di sorga, sehingga Bapa menyingkapkan kebenaran-Nya. Walaupun dunia mengenal nama anak ini "Yesus," "mereka" mengenali-Nya sebagai "Imanuel," Allah yang hadir bersama kita.

Matius menempatkan hal ini di awal tulisannya, sebuah buku panduan untuk menjadi murid. Pemuridan tidak dimulai dengan kehebatan menafsir Kitab Suci. Sebaliknya, pemuridan dimulai dengan iman dan pengenalan akan Yesus, sang "Imanuel," Allah yang hadir bersama kita.

Di awal, murid mengalami banyak kesulitan untuk mengerti Kitab Suci, tapi mereka mulai di garis start yang benar, yaitu iman. Iman akan menuntun murid kepada pengertian yang benar, "faith seeking understanding." Sekarang, pembaca Injil Matius, diajak untuk menelusuri narasi tentang Yesus, sehingga mereka makin mengenal dan makin mengerti tentang diri dan pengajaran Yesus.

Iman kepada Yesus, sang "Imanuel," Allah yang hadir bersama kita, diberikan sebagai anugerah oleh Bapa yang di sorga. Tapi hal ini tidak menghilangkan usaha manusia untuk mengerti Kitab Suci. Setiap pembacaan Kitab Suci yang serius, akan memperkaya pengenalan tentang Yesus Kristus.

Matius merenungkan bagian Kitab Suci yang berbeda dengan penulis kitab Injil lainnya. Karena itu dia mendapatkan pengertian yang unik tentang Yesus, yang berbeda dengan penulis kitab Injil lainnya. Ketika Matius merenungkan teks Yes. 7:14, dia mendapatkan pengertian yang baru dari sejarah kelahiran Yesus. Tampaknya hal inilah yang menjadi fungsi kedua dari nubuat, yaitu memberikan perspektif / sudut pandang baru tentang Yesus Kristus.

Yesaya 1:1 menyebut dirinya sebagai "Penglihatan yang telah dilihat Yesaya bin Amos." Kata "penglihatan" bisa ditafsir sebagai "perspektif sorgawi," sejarah dunia dilihat dari sudut pandang sorgawi. Sebelum dan sesudah penglihatan diberikan, fakta sejarah dunia tetap sama. Tapi penglihatan mengubah cara pandang Yesaya tentang sejarah.

Sebelum mendapat penglihatan, Yesaya bersusah hati, karena kebangkitan kerajaan-kerajaan besar. Asyur akan menghancurkan Israel utara, Babel akan menghacurkan Israel selatan. Setelah ke-2 kerajaan ini berlalu, Israel akan hidup di bawah penjajahan Persia.

Tapi setelah mendapat penglihatan, iman Yeyaya diteguhkan. Kerajaan-kerajaan besar, hanyalah alat di tangan Tuhan. Israel masuk ke sejarah yang gelap. Tapi Yes. 9:1 berkata, "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar." Di tengah gelapnya sejarah dunia, justru kemuliaan Allah makin bersinar terang, kehadiran Allah di tengah umatNya makin terasa. Sebelumnya, kehadiran Allah hanya terasa di Israel. Allah mengatur pemerintahan 1 kerajaan kecil di Timur Tengah. Tapi sekarang kehadiran Allah terasa di antara kerajaan-kerajaan besar ini. Allah mengatur seluruh jalan pemerintahan kerajaan-kerajaan besar ini.

Yesaya telah mendapat perspektif sorgawi yang kekal, tapi mata Yesaya dibatasi ruang dan waktu, Yesaya hanya bisa melihat zamannya sendiri. Itulah sebabnya, tanda "Imanuel" yang disampaikan Yesaya kepada Ahaz, dibatasi dengan penggenapan di masa depan yang dekat, yaitu "sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong." Seorang anak akan lahir di rumah Daud, dan sebelum anak ini berusia 3 tahun, di usia ini anak mampu membedakan baik dan jahat, maka Rezin dan Pekah yang sedang mengepung Yehuda, akan hancur dengan sendirinya.

Ketika Matius membaca teks Yesaya ini, Matius datang sebagai murid, yang telah mengenal Yesus sebagai "Mesias, Anak Allah yang hidup." Misteri yang tersembunyi selama ber-abad-abad, bahkan masih tersembunyi bagi Yesaya, sekarang telah disingkapkan kepada para murid. "Yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar" dari nabi terbesar di Perjanjian Lama. Pengertian Matius tentang sang Mesias, lebih besar dari Yesaya. Karena itu Matius tidak mencari detil blue-print peristiwa masa depan di teks Yesaya, sebaliknya Matius mencari perspektif sorgawi, yang bisa memperkaya pengenalannya tentang Yesus Kristus. Perspektif baru inilah yang Matius tuangkan ke dalam narasi kelahiran Yesus.

Dilihat dari sudut pandang dunia, kelahiran Yesus adalah sejarah yang memalukan.

Di daftar silsilah, dicantumkan 4 wanita yang memalukan: (1) Tamar yang bersundal dengan mertuanya Yehuda, (2) Rahab sang pelacur, (3) Rut seorang Moab, menurut kitab Taurat orang Israel tidak boleh menikah denan wanita Moab, (4) Istri Uria yang berzinah dengan Daud. Dan perempuan ke-5, Maria, hamil di luar nikah. Yusuf juga harus melakukan tindakan yang memalukan, mengambil istri yang telah hamil di luar nikah.

Anak Maria, Yesus, adalah pewaris dinasti Daud, raja dari Kerajaan Allah. Tapi Dia lahir sebagai raja yang powerless, tanpa kuasa. Hidup Yesus diombang-ambingkan oleh raja dunia, Herodes. Seluruh bayi di Betlehem dibunuh Herodes. Yusuf dan Maria membawa Yesus mengungsi ke Mesir, dan dari Mesir kembali ke Nazaret. Sehingga Yesus dikenal sebagai orang Nazaret, sebutan yang memalukan, karena Nazaret dikenal sebagai tempat yang buruk bagi pendidikan anak, sehingga Natanael bertanya di Yoh. 1:46, "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"

Yesaya memberikan perspektif sorgawi, Israel yang ada di tempat yang memalukan, menjadi negara kecil yang dipermainkan pemerintahan kerajaan-kerajaan besar, sebenarnya ada di posisi yang terhormat: menyatakan kehadiran Allah di tengah kegelapan.

Demikian pula, jika dilihat dari sudut pandang sorgawi, sejarah kelahiran Yesus adalah peristiwa yang terhormat.

Ke-4 wanita di daftar silsilah mencerminkan iman yang lebih besar dari bangsa Israel: (1) Tamar lebih beriman dari Yehuda, tentang keturunan yang akan menjadi raja. (2) Rahab percaya Allah bisa dengan mudahnya memimpin bangsa Israel menghancurkan Yerikho. (3) Rut memiliki kasih setia yang besar sehingga mau ikut dengan Naomi ke Betlehem. (4) Nama yang disebut bukan Batsyeba, tapi Uria, orang asing yang jadi bawahan Daud, Uria setia dalam peperangan, Daud menganggur sampai jatuh ke dalam dosa perzinahan.

Maria, wanita ke-5, adalah wanita yang paling terhormat, di dalam rahimnya, Allah berinkarnasi menjadi manusia. Maria dipilih untuk menjadi ibu yang mendidik Anak Allah.

Ketika Yesus lahir menjadi bayi yang powerless, dan kuasa Herodes terlihat demikian besarnya. Justru di saat inilah kuasa Allah tampak nyata. Herodes hanyalah alat di tangan Tuhan, untuk membawa Yesus ke Mesir, sehingga nubuat "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku" bisa digenapi Yesus. Tempat pendidikan anak yang buruk di Nazaret, justru memperjelas kehadiran Allah yang mendidik Yesus secara langsung, sehingga Yesus menggenapi Yes. 50:4, "Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu."

Karena Yesus telah dididik Allah dalam situasi yang memalukan dan dalam penderitaan. Maka Dia bisa mengajar orang lain yang ada di situasi yang sama. Kotbah pertama Yesus di Injil Matius adalah ucapan bahagia kepada orang yang "miskin di hadapan Allah","berdukacita", "lemah lembut" / powerless, "lapar dan haus." Dia juga bisa berkata di Mat. 11:28, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."

Matius menjelaskan fungsi ke-2 nubuat, yaitu memberikan perspektif sorgawi, untuk melihat penderitaan dan situasi yang memalukan, sebagai cara Allah untuk membuat kemuliaan-Nya makin bersinar terang di tengah kegelapan, cara Allah untuk membuat kehadiran-Nya makin terasa, sehingga kita semua bisa makin mengenal Yesus sebagai "Imanuel, "Allah yang hadir bersama kita."

Penutup

Marilah kita ikuti ajakan Matius, untuk menjadi murid Kristus, dengan memperhatikan 2 hal ini:

1. Melihat ke belakang, ke garis start pemuridan. Murid dipilih bukan karena kehebatannya menafsir Alkitab, tapi karena memiliki relasi erat dengan Bapa, maka Dia menyingkapkan rahasia ilahi tentang Yesus, sang Imanuel, Allah yang hadir bersama kita.

2. Melihat ke depan, ke jalan yang harus ditempuh seorang murid. Murid harus merenungkan Kitab Suci siang dan malam, untuk mendapatkan perspektif baru, yang bisa memperkaya pengenalan tentang Yesus Kristus. Hal inilah yang bisa membentuk perasaan, dan pikiran, dan tingkah laku murid, sehingga murid bisa menjadi terang, menyatakan kehadiran Allah di tengah dunia yang gelap ini.

 

 

 

Iwan Tanusaputra, M.Th.

Dosen Bahasa Ibrani & Biblika

STT Bandung

 

Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62) 22 601 - 6454
fax : (+62) 22 607 - 7921
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.