Refleksi: Pelayanan Pendidikan Kristen di Gereja

Views :114 Times

Gereja harus menjadi model bagi terlaksananya pelayanan pendidikan. Aspek pendidikan dalam berbagai area di gereja telah lama sekali terabaikan.

Ada banyak alasannya mengapa hal ini terjadi. Pertama, sikap pemimpin gereja yang ambigu terhadap pendidikan gereja. Sikap ini merupakan salah satu penghalang utama yang telah menyebabkan terabaikannya berbagai aspek pengembangan manusia. Kedua, penekanan yang berlebih pada aspek-aspek lain dari pelayanan, seperti misalnya penyembahan, isu-isu pastoral, serta berbagai aktivitas misi. Dalam jangka panjang, hal ini menyebabkan terjadinya ketidak-seimbangan dan pelemahan pengembangan dari pelayanan gereja. Ketiga, lamanya proses yang dibutuhkan dalam pelayanan pendidikan dan hasil yang tampaknya lambat jika dibandingkan dengan pelayanan lain di gereja, merupakan salah satu alasan dari pengabaian ini. Secara keseluruhan, kegagalan untuk mengenali pentingnya dan uniknya pelayanan pendidikan Kristen telah menyebabkan gereja menjadi tidak efektif dan harus menghabiskan tenaga serta usaha yang tidak perlu.

I. Kembali pada Panggilan Pendidikan Kristen di Gereja


Dalam konteks gereja, selama bertahun-tahun ini ada jeritan karena kurangnya sumber daya yang disebabkan oleh pengabaikan pelayanan pendidikan secara menyeluruh di gereja. Karena itu gereja harus kembali pada pemahaman yang alkitabiah mengenai pentingnya pendidikan dalam konteks gereja, seperti yang ditunjukkan dalam sejarah biblika. Gereja harus menanggapi panggilan dalam bidang pendidikan dengan lebih serius dibanding sebelumnya. Karena itu, pelayanan pendidikan di gereja harus diperhatikan, dikaji ulang dan dikembangkan.


Dalam usaha untuk kembali pada panggilan pendidikan, kita harus menetapkan visi, misi, tujuan, strategi, metoda, program, pendanaan, dan sumber daya manusia di area pendidikan gereja secara baru dan jelas. Situasi pendidikan di gereja saat ini merupakan produk dari sebuah proses perubahan. Karena itu dalam memajukan pelayanan pendidikan gereja, kita harus memerhatikan proses yang berlanjut dan elemen-elemen yang terdapat di dalamnya. Baru setelah kita melakukannya secara serius dan konsisten, maka kita akan melihat perubahan dan transformasi yang terjadi. Dan di situ kita akan memiliki sumber-sumber daya manusia yang cukup agar pelayanan gereja bisa bertumbuh.


Untuk memajukan pelayanan pendidikan gereja, kita harus mengembangkan apa yang kita kenal sebagai filsafat biblika dari pendidikan. Filsafat pendidikan ini akan berfungsi sebagai arah dan visi yang ideal dari usaha-usaha pendidikan. Tanpa visi jelas yang didasarkan pada filsafat biblika dari pendidikan, maka usaha-usaha kita dalam melaksanakan pendidikan gereja tidak hanya akan gagal dalam berbagai aktivitas tanpa fokus, tapi juga tidak akan efektif dalam prosesnya. Kita memerlukan filsafat pendidikan Kristen untuk mendapatkan kerangka universal dari rujukan intelektual dimana karya praktis dari pendidikan Kristen berlangsung. Itulah sebabnya penting sekali untuk membangun filsafat yang kontekstual dan alkitabiah mengenai pelayanan pendidikan.


Dalam konteks pelayanan pendidikan di dalam gereja, ini berarti harus ada integrasi antara pengajaran alkitabiah yang ideal dengan filsafat Kristen dan pemahaman teologi Injili, yang dikombinasikan dengan elemen-elemen khusus dari konteks kita di Indonesia. Mengenai aspek biblika, ini berarti kita harus mempelajari konsep-konsep serta prinsip-prinsip kunci dari sudut pandang biblika. Mengenai filsafat pendidikan, ini berarti kita harus belajar prinsip-prinsip pendidikan yang terbaik dari filsafat Kristen, yang memberikan kontribusi signifikan untuk mengembangkan pendidikan Kristen. Mengenai elemen teologis, kita harus menunjukkan adanya prinsip pengarah dari pendidikan Kristen yang didasarkan pada pewahyuan Allah di Alkitab dan dari perspektif teologi Injili. Secara khusus, Injil akan digunakan sebagai prinsip pengarah dalam semua aplikasi dari proses pendidikan – termasuk pemahaman mengenai natur dan kondisi manusia, makna sejarah, proses individu dan keselamatan sosial, misi gereja, serta berbagai praktik dan peran Kristen dalam kehidupan sosial.


Selain itu, ada kebutuhan untuk mengintegrasikan elemen-elemen kunci yang bertujuan untuk mensintesis aspek-aspek yang berkaitan dengan gereja, budaya suku, serta budaya Indonesia secara luas, dan juga sosial-politik. Dengan demikian, diharapkan akan ada suatu filsafat pendidikan yang kontekstual dan tepat bagi pelayanan pendidikan dan bagi gereja. Sintesis antara elemen-elemen di atas akan menolong untuk menetapkan fondasi bagi pendidikan Kristen di dalam gereja.


II. Mengembalikan Tujuan dari Pelayanan Pendidikan Kristen di dalam Gereja


Tujuan dari pendidikan Kristen adalah membentuk individu yang semakin seperti Kristus dan yang merupakan anggota dari komunitas yang juga seperti Kristus. Pendidikan gereja harus menjadi proses pengarah yang menolong jemaat gereja untuk bertumbuh dalam setiap tahapan dan harus menjadi konteks dimana pembelajaran Kristen berlangsung. Gereja harus membawa jemaat ke dalam proses dimana setiap anggota gereja sepenuhnya terserap dalam berbagai karakteristik khusus dari kehidupan dan nilai-nilai Kristen. Gereja harus membentuk konteks pendidikan maupun persekutuan yang hidup.


Gereja harus menyatakan keberhargaan dari setiap individu Kristen yang yang diciptakan menurut gambar Allah. Tidak hanya dalam hubungan mereka dengan Allah, gereja juga harus menolong para anggotanya untuk mengembangkan kepribadian, kebiasaan, keterampilan, sikap, penghargaan, pengetahuan, ide-ide, kompetensi, serta kehidupan yang memuaskan dalam lingkungan sosialnya. Di gereja saya, berbagai usaha telah diusahakan untuk mengarah pada hal ini meskipun tidak dengan suatu cara yang khusus. Ada kebutuhan yang lebih besar untuk menetapkan tujuan yang diketahui oleh seluruh jemaat.

Jemaat harus tahu kemana kita akan mengarah sebagai sebuah gereja dan juga sebagai anggota gereja. Mereka harus ditolong untuk paham dimana kita berada sekarang dan kemana pendidikan gereja akan membawa mereka. Gereja harus menggunakan berbagai cara untuk menginformasikan jemaat mengenai program gereja yang menyeluruh dari pendidikan, terlepas dari apakah itu bersifat pribadi atau pun korporat. Jika jemaat dapat memiliki kejelasan mengenai tujuan, maka mereka akan termotivasi untuk mengikuti program pendidikan gereja. Pada akhirnya, hal ini akan menghasilkn program yang lebih sukses dalam pendidikan gereja.


III. Kembali pada Teologi dan Kurikulum yang Terintegrasi bagi Pelayanan Pendidikan Kristen di Gereja


Teologi yang diyakini oleh gereja harus menyatakan latar-belakang dan perspektif dari kebenaran Kristen dimana metoda-metoda terbaik akan digunakan sebagai alat untuk membawa jemaat pada hubungan yang benar dengan Allah yang hidup dan untuk mengusahakan lingkungan gereja dimana usaha-usaha untuk mendidik secara Kristiani dapat terwujud. Gereja harus menolong jemaat dalam menghadapi tantangan mengenai makna Kristus, menemukan apa artinya iman di dalam Yesus, dan menemukan apa arti iman itu dalam problema kehidupan masa kini dan untuk mengetahui bagaimana menjadi saksi Kristus yang sejati.


Masalahnya adalah bahwa gereja memiliki kebenaran teologis yang alkitabiah tapi tidak tahu bagaimana mengimpartasikannya kepada seluruh jemaat. Terdapat teologi tapi tampaknya tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan Kristen. Perlu ada cara menemukan metoda atau membangun relasi yang organis antara kebenaran dan pengalaman, antara isi dan metoda, antara kebenaran dan kehidupan. Kita harus menggunakan teologi sebagai dasar dari alat untuk membawa jemaat ke dalam suatu hubungan yang benar dengan Allah dan perspektif teologis yang fundamental mengenai seluruh aspek kehidupan.


Dengan berdasarkan pada teologi yang solid dan integratif, kita harus mengembangkan kurikulum yang baik. Kurikulum ini tidak hanya merupakan ide-ide sistematis, tapi juga dinyatakan dalam tatanan motif progresif yang membawa hasil. Para pendidik gereja tidak boleh hanya memberi berbagai solusi pada masalah, tapi juga harus menyertakan jemaat untuk menganalisa dan mengalami kebenaran di situasi khusus. Dalam kurikulum, terdapat kebutuhan untuk menolong jemaat agar memiliki hubungan pribadi dengan Allah, untuk berjalan bersama Allah dan kebenaran-Nya di dalam perjalanan hidup mereka.


Melalui kurikulum yang integratif, gereja harus menolong pertumbuhan jemaat. Gereja dapat mengembangkan program pendidikan dimana Alkitab menjadi pusatnya dan yang relevan dengan berbagai kebutuhan kontemporer. Apa yang diyakini gereja tentang peran Alkitab sangat penting dalam pendidikan Kristen. Kita harus menolong jemaat mengenal Alkitab sehingga Firman-Nya menjadi sesuatu yang hidup bagi jemaat yang akan menolong mereka menemukan apa yang bermakna di dalam hidup sehingga mereka dapat menemukan tujuannya di dalam hidup mereka. Gereja harus membawa jemaat ke dalam proses dimana setiap anggota gereja dapat diikut-sertakan di dalam berbagai karakteristik khusus dari nilai-nilai dan kehidupan Kristen.


KESIMPULAN


Gereja harus secara serius menyediakan berbagai pengalaman dan pemahaman mengenai pendidikan. Dengan secara setia dan baik menerapkan pelayanan pendidikan, gereja melaksanakan berbagai fungsinya serta menumbuhkan seluruh jemaat untuk menjadi gereja yang diinginkan oleh Allah. Pendidikan gereja harus berfungsi sebagai terang dan garam di dalam dan di luar konteks gereja.


Pdt. Agus Gunawan Saputra., Ph.D.

Ketua STT Bandung 2009 - 2017

 

Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62) 22 601 - 6454
fax : (+62) 22 607 - 7921
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.