Mempersiapkan Umat Allah untuk Menghadirkan Injil Seutuhnya di Tengah Dunia

Views :1041 Times

Di penghujung tahun 2017 ini, Ibu Dorothy Irene Marx, salah satu pendiri sekaligus rektor pertama STTB, baru saja berangkat ke tempat peristirahatan abadi. Salah satu warisan amat berharga yang beliau tinggalkan adalah kecintaannya terhadap Indonesia. Kecintaannya tidak didasari romantisme atau selfish enjoyment. Kecintaannya didasari oleh keyakinan akan panggilan Tuhan baginya untuk menghadirkan terang Injil Kristus di tengah bangsa ini. Visi kebangsaan ini ditularkan dengan sangat kuat kepada anak-anak didiknya, baik yang berasal dari kampus umum maupun sekolah teologi. Salah seorang anak didiknya mengakui bahwa komitmennya untuk berkarya di sebuah perusahaan pemerintah dimulai dari percakapan mendalam dengan beliau yang menegaskan bahwa berjuang membangun sistem yang bersih di tengah korupsi yang membudaya merupakan bagian dari misi Allah.

Memasuki tahun yang baru, kita diperhadapkan pada berbagai tantangan dan sekaligus kesempatan menghadirkan terang Injil di tengah bangsa ini. Belajar dari Ibu Dorothy Marx, sangat menarik bahwa visi kebangsaan tersebut diwariskan bersama dengan kecintaan yang kuat terhadap Firman Tuhan, kehidupan doa yang mendalam, serta kesaksian banyak orang yang dituntun pada pengenalan pribadi akan Kristus melalui pelayanan beliau. Bagaimana pelayanan pemberitaan Injil secara pribadi bisa menyatu dengan visi kebangsaan? Bagaimana spiritualitas bisa berkaitan erat dengan visi kebangsaan? Bagaimana Ibu Dorothy bisa melihat pelayanannya di kampus umum, sekolah teologi, dan gereja sebagai satu kesatuan yang koheren?


Penelusuran terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut menuntun kita menemukan kerangka pemahaman Injil seutuhnya yang ditujukan bagi dunia seutuhnya dan melibatkan seluruh umat Allah seperti yang dikemukakan sebagai slogan inti dari Konferensi Injil Sedunia, Lausanne (1974): The whole gospel, for the whole world, by the whole church. Kerangka pemahaman ini penting untuk mendasari langkah kita ke depan dalam meresponi panggilan Allah untuk menyatakan terang Injil di tengah bangsa ini dan bagaimana mempersiapkan umat-Nya untuk tujuan tersebut.


The whole gospel. Berlawanan dengan kecenderungan masa kini untuk mereduksi berita Injil hanya pada aspek tertentu (proklamasi vs demonstrasi, keselamatan jiwa vs kepedulian sosial, masa kini atau kehidupan yang akan datang), Injil yang diberitakan dalam Alkitab adalah Injil yang utuh. Christopher Wright dalam buku “Misi Umat Allah” mengatakan bahwa kalau kita percaya kejatuhan manusia dalam dosa merusak seluruh aspek kehidupan (total depravity), maka kita tidak boleh mereduksi karya penebusan Kristus seolah-olah hanya berlaku untuk aspek tertentu hidup manusia. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus: “oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus” (Kol 1:20).


For the whole world. Dibentuk oleh pengalaman hidup dan wawasan yang kita miliki, seringkali kita melihat misi Allah hanya terfokus pada kelompok tertentu atau aspek tertentu hidup manusia. Namun Allah yang diberitakan oleh Alkitab adalah Allah Pencipta langit dan bumi. Kristus mati untuk menyediakan jalan pendamaian bagi seluruh ciptaan-Nya (Kol 1:15-20). Injil adalah kabar baik tentang karya penebusan Kristus yang mampu membebaskan manusia dari kuasa dosa dan memulihkan kehidupan individu maupun tatanan masyarakat, untuk hidup dalam harmoni sesuai dengan maksud Allah yang semula. Kita perlu melakukan yang terbaik untuk mengerjakan panggilan Allah dalam konteks masing-masing tanpa kehilangan gambar besar misi Allah atas seisi dunia.

By the whole church. Salah satu warisan reformasi yang penting adalah redefinisi konsep panggilan (vocation/calling) oleh Martin Luther. Konsep panggilan ini menolong para pengikut Kristus menemukan makna yang mendalam akan pekerjaan mereka sehari-hari. Konsep ini selanjutnya berkembang dalam tradisi Reformed, termasuk melalui kelompok Puritan dan Kuyperian. Bersamaan dengan penegasan konsep keimaman semua orang percaya (priesthood of all believers), Luther menegaskan bahwa berbagai bentuk pekerjaan sehari-hari, termasuk peran dalam rumah tangga adalah bentuk panggilan Allah. Nilainya tidak lebih rendah dari pekerjaan yang dianggap rohani.


Sebagai mahluk yang diciptakan sesuai gambar Allah, pekerjaan sehari-hari adalah bagian dari pekerjaan Allah dalam memelihara dan mengembangkan dunia ciptaan-Nya (Kej 1:28). Sebagai umat tebusan Kristus, pekerjaan sehari-hari juga merupakan sarana untuk memberitakan Kristus dan karya-Nya, menghadirkan “cicipan” (foretastes) kehidupan yang diperbaharui, baik secara individual maupun struktural. Kesempurnaan buah karya penebusan Kristus baru akan terjadi di akhir zaman. Namun kita dipanggil untuk menghadirkan cicipan kehidupan tersebut di berbagai bidang kehidupan pada masa kini melalui profesi, bisnis, birokrasi, dan kehidupan keluarga.


Kesaksian banyak orang menunjukkan bahwa kesiapan menunaikan panggilan Tuhan dalam hidup seseorang dibentuk lewat proses waktu yang panjang (sejak masa kanak-kanak hingga dewasa), melalui kontribusi banyak orang (yang berperan sebagai model, mentor, dan teman-teman seperjuangan), dan melalui berbagai bentuk komunitas (mulai dari keluarga asal, gereja lokal, sekolah/ kampus dan berbagai jenis parachurch). Dalam salah satu ungkapan dikatakan, “It takes a village to raise a child.” Allah bekerja melalui berbagai bentuk komunitas untuk mempersiapkan umat-Nya menunaikan panggilan mereka.


Karena itu, tantangan dan kesempatan untuk menghadirkan Injil Kristus di tengah bangsa ini akan bisa direspon dengan baik, bila umat Allah memiliki penghayatan akan Injil yang utuh. Untuk ini, para pemimpin dan pendidik Kristen perlu memiliki visi pendidikan yang utuh untuk mempersiapkan setiap orang melalui proses pembinaan yang berkesinambungan di tengah keluarga, gereja, parachurch, sekolah, dan kampus. Di lapis terdalam, sekolah-sekolah teologi memiliki peran strategis untuk mempersiapkan para pemimpin sekaligus pendidik Kristen di berbagai komunitas tersebut. Soli deo gloria!


Sutrisna Harjanto, Ph.D.

Ketua Program
Magister Pendidikan Kristen
Sekolah Tinggi Teologi Bandung

 

Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62) 22 601 - 6454
fax : (+62) 22 607 - 7921
WA : (+62) 813 2074 7118
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.