Pengetahuan Kebhinekaan untuk Membangun Komunitas

Views :141 Times

 

Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Karena konteks kemajemukan inilah Indonesia mengusung sebuah semboyan, yaitu Bhineka tunggal ika. Semboyan inilah yang selama ini mengikat bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang tetap bersatu meskipun di tengah keberagaman. Keragaman dapat menjadi sebuah senjata yang kuat jika dapat dikelola dengan baik, tetapi juga dapat menjadi sebuah musibah jika ada pihak-pihak tertentu yang terusik kepentingannya dan mengkhianati semangat persatuan.


Dengan konteks Indonesia yang belakangan sedang marak isu SARA, dan intoleransi antar umat beragama maka dengan adanya sebuah sekolah intensif yang dinamai dengan “sekolah pengelolaan kebinekaan dan Perdamaian”, yang diadakan pada tanggal 29 Januari – 3 Februari 2017 maka STT Bandung ikut ambil bagian dengan mengutus mahasiswanya untuk mengikuti sekolah tersebut.

Kegiatan ini dilakukan di Lembang, tepatnya di Hotel Yehezkiel. Pesertanya dibatasi hanya 23 siswa yang terdaftar. Hal ini dimaksudkan agar diskusi lebih intents dan lebih dalam. nya terdiri dari beragam latar belakang. Ada yang sedang kuliah s2 sosiologi, para sarjana hukum, para aktivis lingkungan, guru-guru, mahasiswa dari UIN, dan termasuk mahasiswa STT Bandung.

Para siswa akan dijadwalkan dengan jadwal yang sangat padat, yakni mulai dari jam 8 pagi sampai dengan jam 9 malam. Pada hari pertama para siswa belajar mengenai identitas kebangsaan Indonesia, mulai dari sejarah pemikiran kebinekaan, kebinekaan Agama dan keyakinan, kemudian membahas isu gender dan terakhir mengenai budaya dan agama lokal. Di hari yang kedua, para siswa belajar mengenai tantangan yang dihadapi dalam mengelola kebinekaan dan perdamaian. Pertama-tama dimulai dulu dengan sharing komunitas. Di komunitas yang terdiri dari kelompok kecil dan dari latar belakang kampus dan komunitas yang berbeda, para siswa bisa saling berbagi mengenai persamaan dan perbedaan mereka, kemudian dilanjutkan dengan materi konflik identitas, politik identitas, demokrasi dan politik dan diakhiri dengan materi umum yang dibawakan oleh seorang Dirjen PDTU, KEMENDESA PDTT dengan topik “mengembangkan pedesaan sebagai basis pengelolaan kebinekaan dan perdamaian”. Pada hari yang ketiga, pembahasan lebih spesifik kepada konsep mengelola perdamaian dan kebinekaan. Dimulai dengan pendekatan HAM, kemudian peace building dan resolusi konflik, gerakan anak muda dan media approach, kemudian dilanjutkan dengan materi Umum yang dibawakan oleh Rector Maranatha dengan topic mengelola masa depan Indonesia. dihari yang ketiga ini diakhiri dengan menonton bersama film yang berjudul “mata tertutup”. Kemudian dihari keempat dan kelima, para siswa belajar metode dan pengantar dalam menulis RTL yang akan menjadi tugas riset para siswa ketika sudah balik ke tempat masing-masing.

Sebuah kegiatan yang sangat padat jadwalnya, tetapi tidak menyurutkan semangat kami para siswa untuk terus mengikuti setiap sesi. Ada banyak hal yang dipelajari, yakni mengenai betapa indahnya perbedaan-perbedaan. kami bermain bersama ketika ada waktu luang, dan tidak lupa berfoto-foto bersama yang dapat dijadikan sebagai kenang-kenangan.

Yang menjadi pelajaran untuk kami Mahasiswa STT Bandung yang mengikuti acara ini yaitu bahwa kami sepakat bahwa setiap bidang ilmu mempunyai peran dalam menciptakan perdamaian dan kebinekaan ini. Tidak perlu ada persamaan, karena pluralism tidak sama dengan singuralisme. Gereja dan kampus teologi juga harus melihat bahwa mengelola kebinekaan dan perdamaian adalah salah satu tugas yang harus diemban oleh gereja. Gereja perlu membuka mata dan bangun dari tidur panjangnya agar terlibat aktif dalam kebangsaan.





Nara Sumber : Yogi Liau, salah satu peserta dari Mahasiswa STT Bandung.


Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62) 22 601 - 6454
fax : (+62) 22 607 - 7921
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.