Teologi yang Biblikal, Misional, Kontekstual, dan Transformatif

Views :251 Times


 

 

 


Sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, hidup kita mengalami perubahan. Sampai hari ini (ketika artikel ini ditulis) belum ada tanda-tanda kapan akan pandemi ini akan berlalu. Refleksi atas kondisi ini menelurkan dua pandangan paradoksal mengenai konteks pelayanan. Di satu pihak, konteks pelayanan adalah krusial.


Pelayanan yang tidak kontekstual bukan saja tidak efektif tetapi juga membahayakan, seperti pelayanan gereja maupun seminari yang harus disesuaikan dengan kondisi pandemi dengan protokol kesehatan yang berlaku.


Di lain pihak pelayanan yang sepenuhnya digerakkan oleh konteks juga berbahaya karena akan kehilangan arahnya. Markus 1:35-39 mencatat bahwa pelayanan Yesus bukan saja kontekstual, tetapi memiliki arah yang jelas, karena pelayananNya tidak digerakkan semata-mata oleh konteksnya, melainkan oleh visi dan misi yang diembanNya.


STTB terpanggil untuk “menghasilkan pastorscholar yang berdampak dalam pelayanan urban.” Untuk mencapai cita-cita mulia ini, STTB menyelenggarakan pendidikan teologi yang berkualitas yang terangkum dalam 4 aspek: Biblikal, Misional, Kontekstual, dan Transformatif.


Biblikal
Teologi yang berkualitas, pertama dan terutama, adalah teologi yang sejati (theologia vera), yakni teologi yang biblikal, dalam arti yang “sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.” Visi STTB adalah untuk menghasilkan “pastor-scholar.” Di sini pastor mendahului scholar. Mahasiswa/i. STTB dididik untuk menjadi hamba-hamba Tuhan yang mampu untuk menggali dan memahami kebenaran Firman, sebelum kemudian menyajikannya sesuai dengan konteksnya. Mereka pertama harus memiliki iman dan hati seorang gembala, sebelum memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas sebagai seorang scholar.


Di antara berbagai teologi yang benar dan biblikal, STTB berkomitmen kepada teologi Reformed. Komitmen ini diberikan karena teologi Reformed adalah “potret biblikal terbaik Allah” dan yang melakukannya bagi kemuliaan Allah. Dengan kata lain teologi Reformed adalah teologi berpijak pada Sola Scriptura menuju Soli Deo Gloria.


Missional
Teologi biblikal juga misional, yakni teologi yang memperlengkapi gereja untuk melakukan mandat Injil (Mat. 28:19-20). Misional di sini sengaja diartikan secara sempit, yakni pemberitaan kabar baik Yesus Kristus. Gereja baik secara kolektif maupun individu harus hadir dalam setiap aspek kehidupan manusia, tetapi sekedar hadir bukanlah misional. Gereja menjadi misional saat ia menyadari kehadirannya sebagai utusan untuk pemberitaan Injil serta melaksanakan panggilan ini. Hendrik Kraemer menyebutnya sebagai essential missionary character of the church.


Karakter esential gereja sebagai utusan pemberitaan Injil tidak dapat dipisahkan dari komitmennya kepada keunikan Yesus Kristus sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh.14:6). Injil adalah unik karena Kristus adalah unik. Ketika komitmen kepada keunikan Yesus Kristus memudar, maka vitalitas pemberitaan Injil pun menurun. Ketika keunikan Yesus Kristus tidak lagi dipegang, maka penginjilan pun berhenti dengan sendirinya. Maka Johannes Verkuyl dengan lugas menyimpulkan: “The subversion of the missionary mandate…is [a] betrayal of Jesus Christ.” Dengan demikian teologi yang misional pertama harus menekankan keunikan Yesus Kristus sebelum memperlengkapi dengan berbagai wawasan dan metode untuk menjalankan mandat Injil sesuai dengan konteks-nya.

 

 

Konstektual
Injil tidak dapat dikabarkan dalam kevakuman. Ia diberitakan kepada manusia pada tempat dan masa tertentu. Ketika Firman menjadi manusia, Ia lahir sebagai orang Yahudi dan memberitakan InjilNya kepada orang Yahudi di tanah Palestina pada awal abad pertama Masehi. Mengikuti analogi ini, maka setiap kali Injil yang kekal diberitakan kembali, Ia harus di-“inkarnasi”-kan kembali dalam konteks yang berbeda. Panggilan STTB adalah menghasilkan hambahamba Tuhan di satu pihak berpegang teguh pada teologi yang biblikal, Reformed serta misional, dan di lain pihak mampu menyajikan teologi yang berkualitas ini dalam konteks-nya. Dalam hal konteks, kita menekankan pelayanan perkotaan (urban ministries). Sekalipun lulusan seminari ini dapat dan akan melayani di berbagai daerah baik perkotaan maupun pedesaan, namun adalah komitmen seminari ini untuk memusatkan perhatiannya pada pelayanan perkotaan dan secara khusus membekali lulusannya untuk mampu menerjemahkan Injil dalam konteks pelayanan perkotaan.


Transformatif
Teologi bukan saja harus kontekstual, tetapi juga transformatif. Teologi bukan saja harus disesuaikan dan diterjemahkan pada yang konteks tertentu, tetapi harus membawa perubahan pada konteks-nya. Dengan kata lain, teologi bukan saja menjawab kebutuhan dan pergumulan manusia pada konteks tertentu, tetapi juga memberikan solusi yang benar bagi mereka. Kontekstual tanpa transformasi adalah seperti dokter yang mampu memberikan diagnosa dengan tepat dan benar, tetapi tidak mampu menyediakan obat dan treatmen yang dibutuhkan. Kontekstual tanpa transformasi hanyalah berujung pada despair (keputusasaan).


Pemberitaan Injil haruslah kontekstual dan transformatif. Firman yang kekal bukan saja saja mengambil natur manusia, tetapi juga menguduskan natur itu sendiri. Mengambil analogi ini, maka Injil yang diberitakan bukan saja harus di-inkarnasi-kan sesuai dengan konteksnya, tetapi juga membawa transformasi padanya.


Transformasi itu berjalan dengan alami, karena kekuatan untuk mengubahkan tidak terletak pada manusia yang menjalankannya, tetapi terletak pada Injil itu sendiri (Roma 1:16). Transformasi ini harus terjadi, jika tidak, penyatuan Injil dan konteksnya adalah sinkretisme, dimana inti Injil sendiri telah dikompromikan dan tercemar oleh dosa. Tetapi saat transformasi terjadi dan mencapai puncaknya, maka Injil telah membumi dan menyatu dengan tanah di mana ia ditanamkan. Transformasi pada akhirnya akan menghasilkan gereja Tuhan yang bertumbuh dan berkembang membawa kebaikan manusia dan lingkungannya.


Memakai bahasa teks dan konteks, teks yang menjadi pegangan adalah teologi yang biblikal dan Reformed. Konteksnya adalah pelayanan kontekstual dan transformatif. Misional adalah jembatan penyambung antara teks dan konteks. Adalah tujuan kita untuk memproklamasikan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat manusia berdosa, oleh sebab itu kita berkomitmen untuk berdiri teguh di atas kebenaran Firman Allah dan menyajikannya dalam konteksnya agar terjadi transformasi bagi manusia dan lingkungan yang menerimanya.


Philip Djung Kheng Hong, Ph.D.

Dosen Teologi Sistematika
Sekolah Tinggi Teologi Bandung

 

Kontak Info

Jalan Dr. Junjunan No. 105
Bandung 40173, Indonesia
ph : (+62)22 601 - 6454
fax : (+62)22 607 - 7921
WA : (+62)815 7336 0009
e-mail : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.