Sekolah Tinggi Teologi (STT) Bandung bekerja sama dengan Asosiasi Teologi Indonesia (ATI) menyelenggarakan rangkaian acara Annual Meeting (AM) ATI ke-12 pada tanggal 28 hingga 30 Juli 2026, yang diadakan di Aula lantai 7 Sekolah Tinggi Teologi Bandung. Mengusung tema “Agama, Media, & Budaya Populer”, konferensi tahunan ini menjadi wadah bagi para teolog dan akademisi untuk berdialog tentang isu-isu kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat .
Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah Panelis Ahli yang menghadirkan sejumlah pemikir terkemuka, termasuk Dr. Dwi Maria Handayani, Dosen dan Ketua Program Studi Magister Teologi (M.Th.) di STT Bandung. Dalam sesi tersebut, Dr. Handayani menyampaikan materi berjudul “Dialog antara Film Avatar dengan Teks Ratapan di Perjanjian Lama”, yang mengupas bagaimana narasi budaya populer dapat menjadi mitra dialog bagi teks-teks Alkitab, khususnya Mazmur Ratapan .
Dr. Handayani, yang juga merupakan seorang Langham Scholar, memperkenalkan pendekatan hermeneutik yang dialogis dan analogis . Ia menyoroti bagaimana film Avatar (2009) karya James Cameron, dengan kisah tentang konflik ekologis di planet Pandora, dapat mengiluminasi pembacaan terhadap teks-teks ratapan dalam Perjanjian Lama. Menurutnya, baik film maupun kitab suci sama-sama menggambarkan realitas “tanah yang terluka” sebagai ruang sakral, kehancuran komunitas yang bersifat komunal, serta pentingnya pengakuan atas penderitaan sebagai langkah awal menuju pemulihan .
“Film ini bukan sekadar ilustrasi, melainkan mitra dialog yang membantu kita mengimajinasikan kembali dimensi afektif dan ekologis dari ratapan,” yang dijelaskan oleh Dr. Handayani. Ia menekankan bahwa praktik meratap (lamen) yang dilakukan secara komunal, seperti yang terlihat dalam film dan kitab Mazmur, memiliki kekuatan teologis dan sosial untuk menyatukan komunitas dalam menghadapi ketidakadilan serta memulihkan relasi yang rusak antara manusia, sesama, dan alam.
Sumbangsih pemikiran Dr. Dwi Maria Handayani ini sejalan dengan fokus keilmuan dan pelayanannya di STT Bandung, di mana ia secara konsisten mengembangkan pendidikan teologi yang peka terhadap budaya, ketat secara akademis, dan transformatif secara pastoral.
Panelis ahli lainnya yang turut hadir adalah Dr. Leonard Epafras, Prof. Yahya Wijaya, Ph.D., dan Prof. Fatimah Husein, M.A., Ph.D. Diskusi ini menjadi salah satu momen penting dalam Annual Meeting ATI 2026, yang secara keseluruhan bertujuan untuk mendorong diskursus teologi di Indonesia agar tidak hanya responsif terhadap teks, tetapi juga konteks sosial dan budaya yang dinamis.