English English Bahasa Indonesia Indonesia
11 August 2026
Ibadah Pembukaan Semester Ganjil 2026/2027
11 August 2026

Dalam ibadah pembukaan semester tahun ajaran 2026/2027 yang diselenggarakan di Aula lantai 7 STTB, seluruh civitas akademika baik mahasiswa/i dan dosen serta staff diajak merenungkan tema “Berbuah di Segala Musim Kehidupan.” Perenungan ini diangkat dari perjalanan hidup Rasul Paulus (Filipi 1:12–20) serta gambaran kontras dalam Yeremia 17:5–8, dengan menyertakan teladan Daud dan nabi Daniel sebagai tokoh-tokoh Alkitabiah yang hidup produktif di tengah berbagai kesulitan. Yang menyampaikan kotbah adalah Bapak Sutrisna Harjanto, Ph.D. selaku pimpinan Sekolah Tinggi Teologi Bandung.

 

Pengkhotbah membuka perenungan dengan sebuah pengakuan jujur: membicarakan hidup yang berbuah menjadi sesuatu yang ringan ketika segala sesuatu berjalan tertib—perkuliahan lancar, nilai-nilai baik, pelayanan dihargai. Namun tantangan sesungguhnya muncul ketika hidup dipenuhi kejutan: musibah yang datang bertubi-tubi, keadaan yang tidak direncanakan, dan situasi yang di luar kendali.

Di tengah situasi demikian, kata-kata normatif sering kehilangan daya. Berdasarkan survei sebuah pusat riset dunia kerja, orang kini cenderung mencari contoh nyata, bukan sekadar konsep dan teori. Karena itu perenungan ini menyajikan teladan hidup dari berbagai masa untuk menjadi pegangan.

 

Rasul Paulus menjadi teladan pertama. Setelah tiga kali perjalanan misi yang ia kendalikan sendiri, hidupnya berubah drastis ketika ia difitnah, ditangkap, dan nyaris dibunuh. Namun Paulus bukan tipe orang yang pasrah begitu saja—ia berani menegakkan haknya secara hukum sebagai warga negara Romawi. Di balik perlawanannya yang sehat, tersimpan kepasrahan yang luar biasa.

Kuncinya ada pada perspektif dalam Filipi 1:12: “Apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil.” Sebagai tawanan, Paulus mendapat kesempatan memberitakan Kristus kepada penjaga istana dan gubernur Romawi. Pemenjaraannya justru membuat banyak saudara seiman semakin berani. Bahkan ketika ada pihak yang memberitakan Kristus dengan maksud tidak murni, ia menanggapinya dengan satu kalimat: “Yang penting Kristus diberitakan; aku bersukacita dan akan tetap bersukacita.”

Catatan para penafsir menegaskan bahwa setidaknya empat surat Perjanjian Baru ditulis dalam masa pemenjaraan Paulus—termasuk surat-surat penting. Semua itu lahir dari kejernihan batin yang melihat tangan Tuhan bekerja di balik keadaan yang tidak direncanakan.

 

Teladan kedua adalah Daud. Ketika pasukan Israel melihat Goliat sebagai raksasa pengancam, Daud melihat sosok yang tidak mengenal Allah—dan dari perspektif itulah ia menjalankan tugasnya menghadapi Goliat. Pengkhotbah menegaskan: segala kekuasaan ada masanya dan ada batasnya; panggilan kita hanyalah melayani Tuhan.

Teladan ketiga adalah Daniel, yang berada di Babel sebagai tawanan dan minoritas selama sekitar 70 tahun. Ia mengalami pergantian penguasa, terancam penggal, dihadapkan pada perapian bernyala dan gua singa. Namun ia tidak pernah kehilangan iman dan komitmen kepada Tuhan, karena ia memandang segala sesuatu dari perspektif yang sama dengan Daud: “Tuhan menyerahkan Yerusalem ke dalam tangan Nebukadnezar.” Daniel pun dipakai Tuhan bukan hanya bertahan hidup, tetapi menjadi berkat sampai pengakuan para raja bahwa Allahnya Daniel adalah Allah semesta langit.

 

Perenungan ditutup dengan Yeremia 17:5–8. Orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri digambarkan seperti semak bulus di padang belantara—menariknya, teks menegaskan bahwa ia tidak mampu melihat datangnya keadaan baik, bukan sekadar tidak mengalaminya. Sebaliknya, orang yang menaruh harapannya pada Tuhan adalah seperti pohon di tepi air: akar merambat ke batang air, daun tetap hijau, dan tidak berhenti berbuah.

Yang ditekankan adalah bahwa kesulitan hidup dialami oleh semua orang. Panas terik dan tahun kering bukan pengecualian bagi orang yang berbuah. Namun respons dan buah kehidupan kita tidak seharusnya ditentukan oleh faktor eksternal—siapa yang duduk di atas kita, atau suasana politik dan ekonomi pada zamannya.

 

Menutup perenungan, setiap orang yang hadir diajak memilih pola pikir peluang (opportunity mindset) alih-alih pola pikir korban (victim mindset), serta menghidupi resiliensi yang bukan sekadar bangkit kembali (bounce back), melainkan bergerak maju (bounce forward). Sama seperti para nabi dan rasul sepanjang zaman, orang percaya dipanggil bukan untuk cari aman, tetapi untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan dengan kapasitas masing-masing—meski itu mengandung risiko.

Ibadah ditutup dengan doa yang dipimpin Pak Johan, memohon kekuatan untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan yang berdaulat atas segala sesuatu, agar di tahun ajaran yang baru jemaat tidak terkalahkan oleh dunia, melainkan terus berbuah: Kristus dimuliakan, Injil diberitakan, dan kepentingan orang banyak diperjuangkan.

Soli Deo Gloria..